Sunday, December 20, 2009

Sepenggal dari cuplikan masa lalu - bag 1

Penantian setelah 10 tahun

 

 

Setelah menanti dalam kurun waktu yang cukup lama, putra keduaku lahir dengan selamat,  berat 5kg panjang 54 cm, normal, sehat, tidak kurang suatu apapun, ganteng , begitu kata dokter yang membantu persalinanku.

 

Alhamdullilah kata suami yang mendampingiku selama proses persalinan sambil mencium keningku, “terimakasih sayang” itu ucapannya.


Setelah sang bayi selesai dimandikan dan dipakaikan baju, ibuku masuk ke ruang bayi menyaksikan menantunya mengumandangkan azan ditelinga sang cucu .

Saat itu jam 10.35 pagi hari Jumat…..dokter masih sibuk dengan diriku…. karena bayinya besar aku terpaksa harus mendapat 24 jahitan (kata ibuku diobras, alias jahit pinggir istilah jahit menjahit)…..

 

Suamiku masuk dan mohon pamit padaku……“saya harus pulang mau siap2 sholat jumat dan langsung berangkat”, katanya…….. dia harus berangkat ke Eropa untuk waktu satu bulan.

Maka kami putuskan persalinan dipercepat.

Kalau menunggu satu bulan setelah dia kembali terlalu lama dan dikhawatirkan kenapa2 karena dokter sudah menduga kalau bayiku terlalu besar…padahal tidak ada riwayat diabetes……dan aku juga tidak gemuk2 amat, berat badan naik selama kehamilan cuma 6 kg, bayi jumbo kata dokter anak yang melakukan test darah…

Tanpa terasa air mataku mengalir……… namun kutahan…dengan terpaksa kulepas kepergiannya……. sedih banget wong baru melahirkan sudah ditinggal pergi, sebulan lagi…..lumayan lama.

 

Tidak terasa waktu barjalan sangat cepat , 2 bulan telah berlalu, saat itu hari masih pagi ..dua hari sebelum lebaran… sikecil telah berumur 50 hari, aku sedang sibuk memandikannya dibantu ibuku yang sengaja kutahan untuk tidak pulang dulu, sementara kakaknya masih terlelap dikamar, rupanya habis makan sahur dia tidur lagi.

 

Tiba2...entah apa yang terjadi aku tak tau persis…suamiku yang sedang mematut diri membetulkan dasi di depan cermin berteriak kesakitan sembari memegang perut sisi kiri…..ayahku yang sedang asik membaca koran berlari ke kamar dan mendapati suamiku sedang mengerang kesakitan………sambil bersandar di dinding kamar…….

Dibantu ayahku, dia berdiri dan ayah sangat terkejut ketika memegang perutnya yang terasa begitu keras seperti memegang tembok……….ayo kerumah sakit katanya tanpa basa- basi.

 

Sesampainya di rumah sakit, setelah cek sana sini dan bayar sana bayar sini……….akhirnya dokter bilang hasilnya baru bisa diketahui 3 hari lagi ………  kamipun pulang, cemas , sedih dan kecewa tentunya……... 

 

Anehnya begitu sampai dirumah…….dia tidak merasakan sakit sama sekali..namun perutnya kalau diraba tetap terasa keras seperti batu. Beberapa hari berlalu, aku ke rumah sakit mau mengambil hasil lab, namun karena bertepatan dengan lebaran hari ketiga…banyak petugas yang gak masuk dan dokternya sedang cuti..aku disuruh kembali 3 hari lagi, duch nasib, sakit koq ya pas sedang libur begini…...

 

Tiga hari kemudian….setelah membayar lagi sejumlah uang administrasi , maka diserahkanlah padaku apa yang kami tunggu-tunggu itu, kuamati hasil lab ditangan yang hasilnya aku gak ngerti, dan setelah konsultasi dengan dokter kami disarankan untuk ke rumah sakit Cipto karena disana peralatannya lebih lengkap.

 

Hari itu juga kami kesana..dan lagi-lagi setelah capek di suruh kesana kemari, bayar sana bayar sini……… dari pagi sampai sore…. akhirnya keluar juga hasil yang ditunggu2.… CT Scan negative, Rontgen negativ, USG nihil namun hasil test darah sangat mengejutkan , vonis dokter , cancer jenis Lyphosarcoma stadium akhir alias stadium 4………..alamak bencana apa pula ini,……….seperti air es rasanya , dingin sekali, beeeeerrrrrrr……..mengguyur tubuhku , jiwaku serasa melayang entah kemana tapi tubuhku masih nempel di lantai…..keringat dingin mengucur…..Innalillahi wa inna ilaihi rajiun…itu kata yang terucap selebihnya air mata………

 

Dengan tubuh lunglai kami keluar dari ruangan pemeriksaan dan ……rumah sakit yang begitu ramai terasa sepiiii sekali, seolah2 tak ada orang yang berlalu lalang hilir mudik seperti biasa , kecuali kami berdua.

 

Pelan sambil membisu kami berjalan ketempat parkir, diserahkannya kunci padaku dan selama perjalanan pulang kami hanya diam membisu ……….tak ada sepatah katapun yang mampu terucap, dia yang duduk disebelahku pun tak berusaha untuk bicara atau memecah keheningan…mungkin sama atau malah lebih shock dari aku , matanya terpejam tapi aku tau dia tidak tidur.

 

Jalanan yang padat terasa semakin menyesakkan…..pandanganku mengamati lalu lintas namun pikiranku melayang entah kemana……Alhamdullilah namun dengan penuh heran aku masih bisa selamat sampai dirumah, menyetir dalam keadaan pikiran melayang kemana2.

 

Setelah menanti selama 10 tahun untuk mendapatkan anak kedua, kini aku dapat kado istimewa yaitu suamiku diserang penyakit yang buat sebagian orang terutama diriku sangat mangerikan atau sama saja dengan akhir kehidupan alias “kematian”......................Insya Allah akan dilanjutkan

5 comments:

  1. Mbak..... maaf mau tanya.. itu diagnosa liposarcomanya sudah tegak ya? Bagaimana kabar suami sekarang?

    Si kecil jumbo banget ya mbak... Amazing 5 kg eui... kebayang ngelahirinnya kyk apa, hehe... SC ya mbak waktu itu?

    ReplyDelete
  2. itu sudah positiv and tak bisa ditawar2 lagi.
    kelahiran normal....
    selanjutnya ada di cerita berikutnya

    ReplyDelete
  3. ....
    koneksi ama obrolan di postingan sebelum nya.
    semoga suasana hati yg ada baik" saja.

    ReplyDelete
  4. Insya Allah... sebenarnya emang itu yang diharapkan

    ReplyDelete